Showing posts with label hujan. Show all posts
Showing posts with label hujan. Show all posts

Monday, May 16, 2011

Hujan Tercenung

Bantu aku, Tuhan.
Jadikan aku hingga tak peduli pada tamu hati
bernama kerinduan

menjejalkan seluruh sedih, resah dan marahku pada peti besi..
segera pasang gembok dan buang ke laut..
jangan biarkan ia muncul lagi ...

rindu adalah tanda baca berikutnya..

Thursday, April 07, 2011

Hujan

Hujan...
Tak mampu hilangkan anganmu
Yang terlarut indah disentuhan
Senyumanmu

Sudah...
Sering kali ku membawamu
Ketepi jurang di dalam hatimu
'Tuk terjatuh denganku

Ku ingin kau inginkanku
Seperti ku inginkanmu
Selalu ada dimana ku ada
Kan kuberi kau kisah terindah
Walau dalam tidurmu
Tak perduli walaupun ku lara

Ku ingin kau inginkanku
Seperti ku inginkanmu
Selalu ada dimana ku ada
Kan kuberi kau kisah terindah
Walau dalam tidurmu
ku lara...

Thursday, March 17, 2011

Hujan yang Sederhana

Photobucket
rinai hujan perlahan mengajak dedaunan untuk menari dalam malam dengan angin sebagai penuntun gerak. Apa yang paling kau suka dariku? Pertanyaan itu paling sering kau ajukan.
Hujan mengapa masih setia menaungi kita? Aku ingin memanen air hujan, seakan begitu hapal mengingat rintik-rintik hujan

hujan begitu paham menerka riak di kubangan, sederhana saja
hujan menyentuh daun-daun malam, sepintas saja

kauheningkan agama ibumu, melalui angin timur yang menjauh, kausampaikan salamku padanya...

"Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (Al Qur'an, 43:11)

Allahumma jallilnaa sahaaban katsifan, qashiifan daluuqan, dhuhuukan tumthirunaa minhu radzaadzan, qathqathan, sajlan, yaa Dzaljalaali walikraam.

"Ya Allah ratakanlah kepada kami awan yang tebal, kuat, berarak-arak, lebat, dan memancarkan kilat yang membawa hujan yang sederhana, gerimis dan rintik-rintik. Wahai Dzat Yang Maha Tinggi dan Mulia"

shill - menara hati 17032011

When We Dance

Photobucket
If he loved you
Like I love you
I would walk away in shame
I'd move town
I'd change my name

When he watches you
When he counts to buy your soul
On your hand his golden rings
Like he owns a bird that sings

When we dance, angels will run and hide their wings

The priest has said my soul's salvation
Is in the balance of the angels
And underneath the wheels of passion
I keep the faith in my fashion
When we dance, angels will run and hide their wings

I'm still in love with you
[I'm gonna find a place to live
Give you all I've got to give]

When we dance, angels will run and hide their wings
When we dance, angels will run and hide their wings

If I could break down these walls
And shout my name at heaven's gate
I'd take these hands
And I'd destroy the dark machineries of fate
Cathedrals are broken
Heaven's no longer above
And hellfire's a promise away
I'd still be saying
I'm still in love

He won't love you
Like I love you
He won't care for you this way
He'll mistreat you if you stay

Come and live with me
We'll have children of our own
I would love you more than life
If you'll come and be my wife
When we dance, angels will run and hide their wings
When we dance, angels will run and hide their wings
When we dance, angels will run and hide their wings
When we dance, angels will run and hide their wings

I'm gonna love you more than life
If you will only be my wife
I'm gonna love you more than life
If you will only be my wife
I'm gonna love you night and day
I'm gonna try in every way

(I had a dream last night
I dreamt you were by my side
Walking with me baby
My heart was filled with pride
I had a dream last night)

Tuesday, March 08, 2011

Recharging

Photobucket
senja merajam hari yang masih enggan bersahabat dengan hatiku, hujan beberapa tumpahan tak mampu mendinginkan saga di dada, masih juga cerita tentang detik demi detik jam kosong yang mulai lemah daya, "harus dijemur" kata bapak....

pengemis kepayahan menerima derma, perut kepayahan menghalau panganan yang berjejal, otakku kepayahan menjawab satu persatu matrik dan ruang vektor, tubuhku kepayahan menahan dingin....

aku tidak bisa berjuang melawan iramanya, bagi dunia saat ini.. di mana perbuatan yang paling indah adalah dosa

Friday, March 04, 2011

Mimpi Memetik Rintik

Photobucket
tak ada lagi yang bisa kulakukan
..
"tunggu aku...", katamu dalam mimpiku suatu malam
dan seketika itu pula hidup berubah
menelan semua ambisi yang pernah ada
terlena dalam penantian yang aku pun tak tau maknanya

setia dalam tiada.
telah lama tak tau lagi artinya nyata
fana yang ada
larut dalam fatamorgana
koma...

hanya mimpi yang mampu terlihat

walau bisikan-bisikan untuk bangun sering hadir
dan terdengar hangat berusaha menyadarkanku
tapi sungguh alam bawah sadar ini kucintai sepenuh jiwa

mungkin ku tlah terbiasa
berharap merangkai rintik hujan
bermain tali dengan warna pelangi
lupakan aku, masa depanku...
karna aku tlah mati dalam nyata...

hujan amnesia

Photobucket
Jangan Engkau tiupkan lagi angin ..........,

hati ini telah menggigil karena dingin..........
Janganlah Engkau turunkan lagi hujan.........
tubuh ini telah basah kuyup oleh air mata..........

Thursday, March 03, 2011

Jejak Hujan

Photobucket
Di dalam seleretan rasa yang mengaliri luka
Bayangan semakin kabur seperti serpihan asa yang semakin menipis
Dalam diamnya sepi hanya menjadi mimpi
Tak pernah berujung untuk bangunkan kepingan rinai yang terserak
Karena kamu hanya semu

Semu yang melelahkan sampai habis air mengalir kembali bermuara
Jadi berjalanlah saja susuri tepi titian kehampaan
Gemerincing riak kehidupan akan selalu menjadi nyata yang meriangkan
Membuat sinar matahari akan terasa menyejukkan

Dan pelukan hujan menjadi kelembutan
ditingkahi tarian pelangi dengan segala kenangan yang terbentang indah
dalam setiap juntainya

Selamat jalan penghujung malam yang kelam
Dan datanglah selirik lagu berdendang ceria
Hidup termaknakanlah dalam damai...

@perempuan_hujan 03032011



Wednesday, March 02, 2011

(Tiap Hari) Punya Hati




Hatiku adalah ruang bening
Kubiarkan menjadi kanvas kosong
Dibelakang ada perjalanan sunyi
Jejaknya sudah tertutup kabut dan kering
Tahan dulu pernyataan ingin pamit
Telah berdamai hatiku oleh nada kasih setia
Ketika badan binasa jiwa tak menyerta

Ada gerimis jatuh di nisanku....





Tuesday, March 01, 2011

Ajeng: Gadis Kecil dalam Hujan


Kemarin sejak pagi hujan turun dengan derasnya seolah tak mau berhenti mencurahkan seluruh airnya ke bumi. Sore hari ketika hujan mulai reda, ada sesosok makhluk mungil berdiri di depan rumahku. Tubuhnya yang kurus basah dan menggigil kedinginan.

Aku tak tahu apa maksud kedatangannya ketika kemudian samar-samar aku mendengar lirih suaranya yang bernyanyi entah lagu apa, sambil menepuk-nepukkan tangan untuk mengiringi nyanyiannya. Tuhan, anak itu sedang mengamen, ditengah cuaca yang tidak bersahabat seperti ini. Kutaksir usianya sepantar dengan anakku yang nomor enam, sekitar lima tahunan.

“Nama kamu siapa?”, tanyaku.

Malu-malu ia menjawab, lagi-lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Ajeng, Tante...”

“Ajeng, kamu udah sekolah ? Kelas berapa ?” tanyaku lagi.

“Kelas satu, tante”.

“Rumah kamu di mana ?”

“Di komplek belakang,”

Dia hanya setahun lebih tua dari anak bungsuku.

Kubuatkan segelas teh manis hangat untuknya. Kusuguhkan pisang goreng yang baru saja aku angkat dari penggorengan.

“Cepat diminum, biar badan kamu hangat. Nanti kamu sakit,” ujarku.

Tanpa banyak kata dia menurut. Sekali teguk teh manis itu tandas seketika. Disambung dengan gerakan tangannya yang gesit meraih sepotong pisang goreng dan menggigitnya pelan-pelan. Menikmati setiap gigitan demi gigitan. Hmmm...

“Baju kamu basah, kita ganti baju yuk”, ajakku ketika kulihat ia sudah menghabiskan potongan terakhir pisang goreng yang ada di tangannya. Cepat aku pilih baju si bungsu dari dalam lemari. Baju yang kira-kira masih pantas diberikan kepadanya. Aku buka pakaiannya dan kuganti dengan pakaian yang kering.

Setelah itu mengalirlah cerita dari mulut mungilnya.

Dia selalu mengamen setiap pulang sekolah, putar-putar di komplekku sampai maghrib kemudian pulang. Dia melakukan itu semua karena bapaknya sakit asma akut, ibunya bekerja sebagai pembantu di komplekku juga. Setiap Maghrib ajeng akan datang menjemput ibunya di rumah majikannya dan mereka pulang ke rumah.

“Sehari kamu dapat berapa, Jeng ?”, tanyaku penasaran.

“Kadang nyampe lima ribu, Tante. Uangnya buat ajeng sekolah, sisanya Ajeng kasih ke ibu.” Sahutnya polos.

Aku hanya bisa memandangi Ajeng menghabiskan lagi sepotong pisang goreng. Anak-anakku ribut mengajak Ajeng mengobrol, khas anak-anak. Kelihatannya Ajeng pun senang.

Ketika Maghrib tiba, aku antar ia menjemput ibunya. Kumasukkan sisa pisang goreng ke dalam kantung plastik dan kuberikan kepada Ajeng untuk dibawa pulang. Tak lupa kuselipkan selembar sepuluhribuan ketangannya. Satu-satunya lembaran uang yang tersisa dalam kantung bajuku.

Ibunya berkali-kali mengucapkan terima kasih ketika aku ada di hadapannya. Aku hanya tersenyum jengah. Tak lupa kuminta alamat rumah mereka, siapa tahu kelak suatu saat aku bisa mengunjungi keluarga mereka.

Akhirnya, ditengah udara yang begitu dingin sisa hujan sore tadi, aku melangkah pulang ke rumah dengan perasaan yang nyaris tak bisa kugambarkan. Sedih dan haru berkecamuk menjadi satu dalam rongga dada.

Ajeng..

Dia hanya setahun lebih tua dari anak bungsuku. Namun keadaan memaksanya melakukan sesuatu yang belum pantas ia kerjakan. Berjuang untuk membiayai sekolahnya sendiri, mengumpulkan receh demi receh yang ia dapat dari hasil mengamen.

Sementara itu, berapa banyak yang dihabiskan oleh anak-anakku hanya untuk jajan ? untuk membeli mainan yang sekali pakai langsung dibuang ? untuk membeli chiki, permen, atau makanan-makanan berpengawet lainnya ?

Tak terasa, aku jadi ingin menangis. Aku malu... aku jadi ingat banyak waktuku yang terbuang percuma hanya untuk melakukan sesuatu yang tak penting. Berapa banyak kita yang menghabiskan waktu setiap hari untuk hal-hal sepele yang seringkali tak penting itu ? main game, chating, fesbukan, shopping tak kenal waktu ? hangin’ out dengan teman-teman dan menghabiskan berlembar-lembar ratusan ribu hanya dalam waktu sekejap ? Sementara, Ajeng dan ibunya harus berjuang untuk mengumpulkan setiap rupiah yang mereka terima yang bahkan terkadang tak cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan paling dasar mereka. Betapa tak berartinya selembar uang ribuan lusuh yang ada pada kita sementara mereka meraihnya dengan penuh syukur.

Aku jadi teringat anak-anakku dan betapa beruntungnya mereka. Masih punya rumah untuk berlindung, punya pakaian bersih, mainan yang cukup, makanan yang sehat dan bergizi (meski tak selalu mewah), punya kakek, nenek, serta saudara-saudara yang mengasihi dan memanjakan mereka.

Berapa banyak anak-anak lain seperti Ajeng ?

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan ?

Tuhan, Maafkan aku.....


pecanduhujan

Monday, February 28, 2011

Karena Hujan


ku kecup hujan malam ini
tanpa ada percakapan
hanya gerimisnya...
lewat tetesnya kita bicara...

Satu-satu teman yang dulu terpanggil kembali bersisian
Tak rela melepas semua mimpi...
ingin kupinjam warna-warni pelangi
akan kuberi indahnya padamu

Ku rindukan hadirmu yang selalu membasuh pedih
Sungguh kau tak terganti
Bilakah kau kembali?
kenanganku akan dirimu yang s’lalu memanggil bahagiaku
izinku berbagi denganmu




Friday, February 25, 2011

Hujan Jangan Marah















Lihatlah Aku Pucat Pasi
Sembilu* Hisapi Jemari
Setiap Kupeluk dan Menangisi
Hijau Pucatnya Cemaraaa
Yang Sedih Aku Letih

Dengarkah Jantungku Menyerah
Terbelah di Tanah yang Merah
Gelisah dan Hanya Suka Bertanya
Pada Musim Kering
haaa aaa
Melemah dan Melemah

Hujaaaaaan...Hujaaaaaan...Jangan Maraaaaaahh
Melemah dan Melemah
Hujaaaaaan...Hujaaaaaan...Jangan Maraaaaaahh

ERK......



Thursday, February 24, 2011

Dimana alamat mu?


Jika aku bertemu dengannya, aku ingin waktu berhenti
karena aku tak ingin berpisah dengan kata

Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi


Tuk menulis tentang hati…Dalam sebentuk ukiran kata

Rasa ini seperti gerimis. Menghadirkan sejuk yang membuat jiwa basah oleh bahagia
gerimis yang tak merindukan danau….
air mata mengalir membuat telaga ....
tak bisa menangis…
hanya dpt membasahi baju…

Biarkan aku dengan jalan ini, agar tak ada sesal yang mengekor di belakang hari
Tak lelah ditebas mimpi semu, tak hilang disembunyikan langit hitam.
aku tak pernah lelah mencipta rindu untuknya
Yang kuharap malam ini hanya tenangnya.
Yang kuinginkan saat ini hanya damainya.
Yang kupinta detik ini hanya bahagianya.

Mengalirlah restu Tuhan untuk mimpinya, malam ini.
Seribu jejak yang kupijak. Seribu garis yang kugores.
Membawaku ke dalam negerinya.

Seperti buku usang di atas meja.
Di antara gudang dan rumah tua.
Di antara waktu dan asa.
Tertiup angin, tak sengaja terbuka.
Tertinggal, dan tak terbaca…



Di mana kau alamatkan rumah hatimu? Agar aku tak salah berlari




Wow Surprise…


Hey..what a surprise

Sore tadi seperti biasa pada perjalanan senja, gadget penyerentara serbabisaku berbunyi tingtongtingtong.. hmm ada email masuk..... inbox terbuka kemudian, melihat-lihat apakah ada email penting atau hanya spam dari beberapa milis yang kuikuti.... termasuk mencek spam-spam yang masuk. Ternyata dari perempuan hujan... tumben

sejak jumat minggu lalu terakhir berinteraksi lalu pamit masing2 kembali ke habitatnya .. wewww, sabtu- minggu berlalu ... walau kadang ada keengganan melaluinya tanpa sekedar berceloteh dengannya ...

Melewati senin dan selasa lalu rabu hingga kamis ini .... mau menyapa duluan... takut sibuk... diintip.. kok rumahnya juga anteng.. ga ada perubahan, mudah2an bener2 karena sibuk ... bukan hal lainnya..

Ada yang hilang di hari2 kemarin...., dicoba mencari kesibukan.. dapetnya malah bernostalgia dengan sepultura dkk.... wewwww.., kalau saja punya alamatmu.. mungkin sudah kukirim telegram hihiii "cepat pulang Nak.. ayah mau menikah lagi.....!! (lhoo)

Syukurlah membaca email tadi.. dirimu baik2 saja...., walau ternyata gadget penyerentaramu yang tidak ... :turutberduka: :norose:

semoga amal ibadah gadget itu selama menyertaimu dapat diberkatiNya...

Dengan kabar tadi... terasa sebagian beban hilang..... kok jadi khawatir terhadap dirimu?? padahal aku tahu perempuan hujan adalah wanita yang tangguh.... (atau berusaha terlihat tangguh?? :P)


Going coming thought I heard a knock
Who's there no one
Thinking that I deserve it
Now I realize that I really didn't know
If you didn't notice you mean everything
All I know is I'm gonna be OK


If I'm dreaming don't wanna laugh




"Senyum perempuan hujan kita hari ini bahkan lebih indah dari pelangi.”






Monday, February 21, 2011

Sahabat Hujan*


Kalau ada yang ga suka sama hujan
Itu semata2 karena dia ga bawa payung untuk melindungi bawaannya
Atau dia lagi sakit dan harus menerabas tanpa sempat berteduh
Tapi hujan ga bermaksud begitu
Hujan datang untuk membawa kabar gembira


Melembutkan dalam rintiknya
Menceriakan ketika be-rinai
Menundukkan hati dengan gemuruhnya
Dan hujan membawa kenangan
Tentang cinta, cita, suka dan duka
Maka jangan pertanyakan kalau hujan selalu ada di sini..... :):)...

*makasih, untuk sahabat.. dalam setiap butirnya....*

*dari perempuan hujan

Saturday, February 19, 2011

Pada percik Hujan


Sudah lama, aku memindai sosokmu pada derai hujan
memastikan setiap serpih mimpiku untuk bersama
tidak ada yang lebih indah daripada cerita tentang hujan
diselipkannya sebungkus rindu

kamu... yang tak pernah berhenti menghujaniku
dengan derai indah meriakan muka telaga.
hingga kutunggu redanya hingga pelangi muncul


aku ingin mengenangmu di tiap hujan
padanya kulihat wajahmu menatapku
ada tempat berteduh di ujung sana.

Sore Selepas Hujan


Aku menatap bumi basah di bawah kakiku. Menikmati gerimis sisa hujan sore ini. Kurapatkan jaketku melawan dingin yang tiba-tiba menusuk. Jaket pemberianmu lima tahun lalu, selepas hujan di suatu senja. Bahkan hangatnya kurasa masih sama dengan hangat hari itu.

“Biar hangat,” ucapmu pendek sambil memasangkan jaket kesayanganmu di tubuhku yang menggigil kedinginan. Aku tersenyum menatap mata teduhmu. Hangat tubuhmu serasa mengalir sampai pembuluh darahku. Menghentikan gemeretuk gigiku setelah ditampar hujan sepanjang sore ini. Sore, yang – entah mengapa—tak ingin sedetikpun kuganti dengan malam.
“Aku suka hujan,” katamu singkat.
“Kenapa? Bukankah hujan itu sepi dan dingin?” ujarku sembari menatap mata teduhmu. Entahlah, menatap matamu selalu menghadirkan debar halus di dadaku.
“Bagiku, hujan itu harapan. Hidup tanpa harapan bagai berjalan tanpa tujuan,” lagi-lagi kau menatapku, kau tambahkan pula sesungging senyum di bibirmu. Ahh, senyummu membuat debar halus itu menjadi ombak di dadaku.
“Dan sore selepas hujan, adalah sore terbaik sepanjang hidupku. Syahdu, menenangkan, menyisakan malam yang indah dan tenang.” Kamu diam menatap langit. “Hujan memberi harapan pada pelangi. Tanpa hujan, pelangi tak akan muncul.” Pelan-pelan kautolehkan kepalamu, dan mata teduhmu lagi-lagi menatapku.
“Kamu, hujan untuk pelangiku,” senyummu mengakhiri sore itu. Meninggalkan debur ombak yang tak kunjung diam di dadaku.

***
Dingin terasa semakin menusuk. Jaketmu mulai tak mempan mengusir dingin itu. Dingin yang memilukan, sepilu hatiku sore ini. Sore selepas hujan.
“Kujemput kamu besok sore, selepas hujan.” Ucapmu sambil mengacak rambutku yang basah. Masih kuingat kata-katamu sore itu.
Hujan pun perlahan turun. Semakin menderas. Bukan dari langit, tapi dari pelupuk mataku.
Ratusan sore selepas hujan telah kulewati untuk menunggumu. Lima musim hujan aku menunggu. Tapi kamu tak juga menjemputku. Pelangimu tak pernah muncul lagi, meski hujan terus menyapa. Setiap saat, setiap waktu. Hujan telah mengambilmu dariku.
Hujan – bagiku – adalah harapan, yang dingin dan sepi. Sedingin sore ini. Sore selepas hujan. Tanpamu.
***
Lirih kudengar sebait lagu di kejauhan, mengiringi langkahku meninggalkanmu. Sendirian, di tempat peristirahatanmu yang abadi.

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu…
(Utopia – hujan)

By priechantz

sumber

“Kamu, hujan untuk pelangiku,”

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)