Showing posts with label tafakur diri. Show all posts
Showing posts with label tafakur diri. Show all posts

Tuesday, November 15, 2011

Fathimah binti Abdul Malik : Menukar Gelimang Harta dengan Kesederhanaan

Kakeknya, Marwan, adalah seorang khalifah. Ayahnya, Abdul Malik, juga khalifah. Kekuasaan dan kekayaan telah Fathimah nikmati sejak ia dilahirkan di Damaskus. Pelayan yang selalu siap untuknya, pakaian serba indah, dan perhiasan terbaik, ia peroleh dengan mudah.

Ketika menikah dengan Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, sepupunya, pesta megah digelar untuk putri khalifah ini. Setelah menikah, Umar ditunjuk menjadi gubernur di Madinah. Keduanya pun hidup bahagia dan berkecukupan.

Namun, semua berubah saat Umar bin Abdul Aziz mendapat amanat sebagai seorang khalifah. Betapa sedihnya Umar ketika tugas mahadahsyat ini dibebankan kepadanya. Terbayang keadaannya di akhirat, saat Allah meminta semua pertanggungjawabannya dalam memimpin umat.

Akhirnya Umar meninggalkan semua kemewahan hidup yang dijalaninya selama ini. Ia tak ingin bertahta di atas kemegahan sementara umat hidup kesusahan. Ia tak pantas kenyang sementara masih ada rakyatnya yang kelaparan.

Umar memberi pilihan kepada Fathimah, hidup sederhana bersama Umar atau tetap bergelimang kekayaan namun tanpa Umar di sisinya. Dengan sepenuh keikhlasan, Fathimah memilih hidup bersama sang suami.

Rumah mewah kini berganti bangunan sederhana seperti rumah orang kebanyakan. Tak ada pelayan di sana sehingga ia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Perhiasan dan tumpukan pakaian indah berganti dengan hanya dua helai pakaian sederhana. Makanan tak selalu ada, perutnya pun lebih sering kosong. Pasti berat pada awalnya. Namun melihat kearifan dan kezuhudan suaminya, Fathimah semakin kuat dari hari ke hari.

Suatu ketika Umar melihat Fatimah memakai perhiasan mahal pemberian ayahnya. Ia khawatir dan meminta Fathimah kembali memilih antara kekayaan dan dirinya.

“Tidak, suamiku, aku tetap memilihmu walaupun aku harus mengembalikan lebih dari perhiasan ini, andai saja saya punya,” kata Fathimah. Perhiasan itu lalu diberikannya kepada Baitul Maal.

Kesetiaan Fathimah kepada Umar begitu kukuh. Prinsip hidup keduanya pun menyatu. Saat Fathimah hamil, seorang wanita berinisiatif mengambilkan susu untuknya dari penyimpanan makanan untuk kaum miskin. Namun, Fathimah marah dan menyuruh wanita itu mengembalikannya ke tempat semula karena susu itu milik orang miskin.

Kesetiaan kepada suami pun tetap ia jaga walau suaminya sudah tiada. Setelah Umar wafat, Yazid bin Abdul Malik, saudara Fathimah, menjadi khalifah. Yazid menawarkan Fathimah untuk mengambil perhiasan yang dulu diberikannya kepada Baitul Maal. Tapi Fathimah menolak, “Demi Allah, tidak! Dulu aku memberikannya semasa Umar hidup, lalu bagaimana mungkin aku mengambilnya kembali setelah ia wafat?”

Tak ada catatan tentang wafatnya Fathimah binti Abdul Malik. Namun, kisah kehidupannya tetap dikenang dan menjadi pelajaran bagi kaum Muslimah. Pelajaran tentang kekuatan keimanan, kejujuran, dan kesetiaan yang mengalahkan gemerlapnya harta. Asmawati

Friday, June 24, 2011

Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.


Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Thursday, March 17, 2011

Bertransaksi dengan Tuhan


Sebenarnya apa yang mendasari kita mau bekerja di sebuah Perusahaan, menjadi pegawai Negeri atau Pegawai Swasta, menjabat jabatan tinggi atau menengah ? atau bahkan berwira usaha ? tidak lain dan tidak bukan karena kita telah melakukan TRANSAKSI JUAL DIRI kita kepada Perusahaan atau Institusi tersebut, karena transaksi itulah segala apa yang kita kerjakan dihargai atau dibalas dengan Gaji, Honor atau Bonus. Bagaimana kalau kita bekerja di sebuah Perusahaan tanpa melakukan transakasi lebih dahulu, akankan perusahaan tersebut mau membayar kita ?

Demikian halnya, mengapa kita harus bekerja dengan Allah SWT, seperti melakukan Sholat, Puasa, membayar Zakat/Sedekah, menunaikan Haji dan seabrek pekerjaan Ibadah dan Pengabdian lainnya ? ya… karena kita sudah melakukan Transaksi dengan Allah SWT, bahkan transaksi itu kita lakukan sejak Ruh ditiupkan dalam diri kita di Rahim ibu kita.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian ( Traansaksi ) terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (transaksi ini )".(QS.Al-A’raf:172)

Kemudian kalimat transaksi itu kita sempurnakan dan selalu kita ucapkan berulang kali agar kita tidak lalai bahwa segala pekerjaan Ibadah dan Amal Shaleh kita selama hidup kita ini adalah dalam rangka pelaksanaan Transaksi kita kepada Allah SWT, apa bunyi Transaksi kita itu ? ialah Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH ( “ tidak ada satupun aktifitas yang mampu kita lakukan kecuali jika Allah ada bersama kita “ ) , Kalimat Transaksi inilah yang membuat segala bentuk aktifitas kita akan bernilai dan dihargai disisi Allah SWT.

Bukankah orang-orang Kafir / non Muslim sebesar dan sebagus apapun karya dan kerja mereka, karena mereka tidak mau bertransaksi dengan Allah SWT, maka segala karya daan aktifitasnya tidak akan bernilai apapun dihadapan Allah SWT. Karena Allah SWT hanya kan membeli diri dan harta kita dengan Sorganya bagi kita yang selalu bertransaksi dengan Allah SWT sampai akhir hayat kita.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan Sorga ( kesusksesan tanpa batas ) untuk mereka. Mereka berjuang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh( Berhasil ) atau terbunuh ( gagal ). janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan transakasi jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah : 111)

Oleh itu disetiap akan melakukan sedekah atau kebajikan lainnya ucapkanlah “ Bismillah, Laa ilaaha illallah “ , atas nama Allah dan karena Allah saja aku berbuat.

Sahabat, mari jangan pernah ragu untuk bertransakasi menjual diri dan harta kita hanya kepada Allah SWT